Festival Rimpu Mantika 2026 Digelar 25–27 April, Pemkot Bima Undang Diaspora 

Kota Bima, Bima Times – Pemerintah Kota Bima melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan terus mematangkan persiapan Festival Rimpu 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 25–27 April 2026 dan dipusatkan di Lapangan Serasuba. Agenda budaya tahunan ini dirangkai dengan peringatan Hari Kartini.

Pemkot Bima mengajak masyarakat untuk menyiapkan kain Rimpu sebagai kostum utama . Di hari pertama, seluruh peserta akan diarahkan melewati gerbang timur Museum Asi Mbojo. Setiba di sana, peserta pawai Rimpu Mantika akan disambut oleh tamu VVIP, VIP, serta pejabat eksekutif dan legislatif Kota Bima di pelataran utara Museum Asi Mbojo untuk menerima prosesi penyambutan resmi dan selanjutnya diarahkan menuju Lapangan Serasuba sebagai pusat kegiatan.

Pemerintah Kota Bima juga mengundang diaspora Bima dari berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri untuk hadir dan berpartisipasi dalam pawai Rimpu. Kehadiran diaspora difasilitasi melalui kerja sama dengan sejumlah biro travel, sementara biaya perjalanan ditanggung oleh masing-masing peserta.

Festival berlangsung selama tiga hari. Hari pertama diisi dengan pawai Rimpu dan pentas seni budaya. Hari kedua akan diisi dengan rangkaian city tour menuju sejumlah destinasi unggulan di wilayah Kota Bima.  Beberapa lokasi yang menjadi prioritas antara lain Pantai Lawata, Pondok Wisata Kolo, Museum Asi Mbojo, Museum Samparaja, serta sentra kerajinan tenun dan ekonomi kreatif di Ntobo. Dinas Pariwisata juga akan menggandeng berbagai pihak pendukung seperti Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan perguruan tinggi untuk memastikan kelancaran penyelenggaraan city tour. Hari ketiga ditutup dengan Fashion Show.

Tahun ini, pemerintah menargetkan 80 ribu peserta pawai Rimpu. Pencapaian target tersebut akan jadi bahan pengusulan Festival Rimpu untuk masuk dalam daftar 10 Event Nasional pada tahun berikutnya.

Peserta Rimpu Mantika (2025)

Untuk menjaga pakem budaya, panitia menyiapkan petunjuk teknis (juknis) penggunaan Rimpu bagi peserta perempuan agar tetap sesuai dengan nilai adat dan etika berpakaian masyarakat Mbojo. Selain itu, panitia juga menyiapkan barisan Saremba Tembe bagi peserta laki-laki sebagai bentuk pelestarian gaya berpakaian tradisional Mbojo.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bima, H. Sukarno, SH, menegaskan pentingnya festival ini dalam memperkuat identitas budaya daerah.

“Pelaksanaan Festival Rimpu bukan sekadar seremoni tahunan. Ini momentum besar untuk menegaskan martabat dan jati diri masyarakat Mbojo, sekaligus memperkenalkan budaya kita ke tingkat nasional dan internasional,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan diaspora menjadi nilai tambah bagi penyelenggaraan tahun ini.

“Kami membuka pintu selebar-lebarnya untuk diaspora Bima. Kehadiran mereka memperkuat pesan bahwa budaya Mbojo tidak hanya hidup di tanah kelahirannya, tetapi juga di hati orang-orang Bima yang tersebar di berbagai daerah dan negara,” pungkasnya.

 

Scroll to Top